Thursday, November 13, 2025

Aku Ketagihan Dengan Zakar Besar Pak Karyo Pak Polisi

Sebagai pasangan suami isteri muda yang baru setahun berkahwin, kehidupan keluarga kami berjalan dengan tenang, apa adanya dan tanpa masalah. Saya, panggil saja Ratna (23), seorang sarjana ilmu pemerintahan. Selepas tamat kuliah, saya bekerja di pejabat kerajaan daerah di Solo. Kulit badan saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Manakala saiz bra 34B.

Manakala, suami saya juga kacak. Rio namanya. Umurnya tiga tahun di atas saya atau 26 tahun. Bergelar jurutera, dia bekerja di syarikat perkhidmatan pembinaan. Rio orangnya penyabar dan memahami.Mengenai hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan halaqah malam di atas katil juga tiada masalah yang bererti. Memang tidak setiap malam. Paling kurang dua kali seminggu, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami.Hanya saja, jika hasrat saya sedang memuncak, dan Rio menolak berhubungan badan dengan alasan penat, itu membuat saya kecewa. Memang saya akui kalau mengenai yang satu ini, saya lebih agresif.Bila Rio sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun mengangguk kepala walaupun pada masa itu mata saya masih belum mengantuk.Akibatnya, tergolek di samping tubuh suami, dengan mata yang masih terang, saya sering menghayal. Menghayalkan banyak hal. Tentang jawatan di pejabat, tentang anak, tentang hari esok, sampai tentang katil.Seperti cerita Ani atau Indah di pejabat, yang setiap pagi selalu ada cerita menarik tentang apa yang mereka lakukan dengan suami mereka pada malamnya.Kalau sudah begini, tanpa saya sedar, faraj saya mula berlendir. Untuk mengubati kekecewaan dengan suami saya, saya melakukan masturbasi. Tiada jalan lain, entah apakah saya seorang hypersex.Suatu malam selepas pulang makan malam di salah satu restoran kegemaran kami, entah mengapa, kereta yang dipandu suami saya melanggar sebuah motosikal. Nasib baik tidak terlalu parah betul. Lelaki yang membawa motosikal itu hanya mengalami lecet di siku tangannya.Namun, lelaki itu marah-marah. “Anda tidak nampak jalan atau bagaimana. Masak melanggar motosikal saya. Mana surat-surat kereta anda? Saya ini polis!” bentak lelaki berkulit hitam, berperut buncit itu kepada suami saya.Saya lihat sorot matanya tajam memandang diriku. Ketika mataku sejajar dengan matanya, aku menerima isyarat-isyarat aneh. Matanya seperti menghantar isyarat birahi ke otakku. Aku segera mengelak, memalingkan mukaku.Selepas berunding dengan suamiku, kemudian dicapai persetujuan, suami saya akan membaiki semua kerosakan motosikalnya. Manakala motosikal itu dititipkan pada sebuah bengkel. Orang berperut buncit itu, yang kemudian kita ketahui bernama Karyo, pun bersetuju.Akhirnya kami meneruskan perjalanan dan tiba di rumah. Entah mengapa, sosok Karyo membayangiKu, dan membuatKu agak birahi. Aku masuk ke bilik mandi, untuk mencuci muka, dan menukar pakaian.Untuk menggoda suamiKu, aku memakai pakaian tidur nipis, tanpa bra. Lalu aku kembali ke bilik tidur. Aku menerima kekecewaan, suamiku kelihatan sudah tertidur lena.Aku dengan membawa rasa kecewa, berbaring di samping suamiku. Mataku menerawang jauh. Tiba-tiba ruangan tidurku menjadi gelap, tubuhku kehilangan daya graviti, seakan tubuhku melayang.Dan aku merasa sesak, tubuhku dihempit sosok bertubuh besar, aku berusaha sekuat tenaga menolaknya. Sosok itu mundur beberapa langkah, saat itu juga ruang kamarku kembali terang.Kudapati Karyo, dengan mimik muka penuh nafsu mendekatiku. Tubuhku bagai kehilangan tenaga. Dia merobek baju tidurku, dan merobek begitu saja. Kemudian tangan-tangannya yang kasar, meramas buah dadaku, aku merasa sakit sekali. “Lepaskan, tolong.. tolong…” pekik panikKu.Lidahnya yang kelihatan kasar, menjulur keluar, dan mengenai puting susuku. Saat itu juga, getaran-getaran birahi meresap tubuhku. Aku mendesah kenikmatan. Lidahnya terus berpusing, memberi sensasi nikmat di puting susuku yang mulai membesar.Tanpa kusadar, bahagian bawah tubuhku mulai berlendir. Lidah Karyo terus turun dan turun, pusar ku pun digelitik oleh lidah kasarnya. Lidah kasar itu tak bisa berhenti, dan terus memberiku rasa yang sangat nikmat.Makin ke bawah, terus dan lidah itu mulai menjilati bahagian paling peribadi di tubuhKu.Aku mengerang, merasakan nikmat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Lidah itu terus menjilati selangkangan celana dalamku. Tapi rasanya lidah itu bersentuhan langsung ke klitorisku.Aku mendesah-desah, dengan penuh nafsu. Pinggulku bergoyang seirama dengan jilatan Karyo. Dan terus begitu, sampai tubuhku mengerang, kejang. Aku menjerit sekeras mungkin “Aghhh aku aku keluarrr”.Tubuhku mengeliat, menikmati orgasme yang diberikan Karyo. Sesaat kemudian Karyo, hendak menarik turun celana dalamKu. Saat itu aku teringat suamiku tercinta. Segera Kakiku dengan kuat menendang tubuhnya.Karyo hanya tersenyum, dan dia mengambil pentungannya. Pentungan hitam sepanjang 60 cm, dihantam keras ke perutku. Aku menjerit, menerima rasa sakitnya. Berkali-kali Karyo memukulku dengan pentungan itu. Sampai tubuhku terasa lemas.Tak bisa kulawan lagi, saat dia menarik turun celana dalamku. Matanya jalang, menatap farajKu dengan bukit berbulu, yang sangat berlendir itu. Dia segera membuka celananya dan aku bergidik.Pak Karyo tidak mempunyai zakar. Yang tegak menggantung itu adalah pentungan hitam yang digunakan memukul tubuhku tadi. Aku menjerit-jerit, ini monster, bukan manusia. Karyo semakin mendekat, pentungan yang menggantung di selangkangannya itu terus mendekat ke liang farajku. “Tolong, hentikan tolong, tolong” jeritKu.Dan tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di farajKu. Dan ruang kamarku menjadi terang benderang menyilaukan.Aku terbangun dari mimpi yang aneh itu.Peluh membasahi tubuhKu. Kulihat suamiku masih terlelap. Perlahan Aku beranjak dari katil, dan mengambil air minumku. Aku meminum segelas air, untuk menghilangkan rasa kering di tekakku.Aku ke bilik mandi, membuka celana dalamku, dan duduk di tandas. Aku mendapati celana dalamku basah sekali, begitu juga farajku.Jari-jariku menyentuh klitorisku, dan kembali isyarat-isyarat birahi aktif di otakku. Jari-jari ku terus bermain di klitorisku, tubuhku menerima rasa nikmat. Terus dan terus, sampai aku mengejang, mencapai puncak birahiKu di atas tandas itu.Esoknya, setelah menjemput saya di pejabat, Suami saya mengajak saya singgah ke rumah Karyo. “Untuk apa, mas?” tanyaku. “Yah, kita silaturahim saja, kan tak enak rasanya, aku telah melanggarnya” kata suamiKu.Aku mengalah, sebenarnya aku tak mahu jumpa Karyo, apalagi sejak mimpiku yang aneh itu. Dan Aku tak pernah menceritakan mimpi itu pada siapa pun, tak terkecuali suamiKu sendiri.Kami pun pergi ke rumah Karyo. Selepas berbasa-basi dan minta maaf, Suami saya mengatakan kalau motosikal Pak Karyo sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang.Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Dia menaikkan satu kaki ke atas kerusi. Sesekali dia meneguk secangkir kopi yang ada di atas meja.Yang saya tahu matanya terus jelalatan menatap tubuhku. Dan tiap kali matanya bertemu mataku, ada getaran aneh yang kurasakan. Tapi aku tak tahu apa itu. Yang jelas, aku sepertinya menjadi birahi.Kalau memandang tubuh Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar meski dia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Manakala perutnya membusung. Dari balik kemeja T-nya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.Selepas suamiku berbual cukup lama, akhirnya kita pamit. Suamiku segera memandu keretanya dan pulang ke rumah. Malam itu aku berencana mengajak suamiku bercinta, tapi begitu dia masuk kamar dia langsung berkata “Ayo kita tidur yuk, saya penat sekali hari ini, banyak tugas..”Aku tersenyum dalam kekecewaan. Dan ikut berbaring bersama suamiku.Di pejabat, esok harinya aku tak semangat bekerja. Jam makan tengah hari aku gunakan untuk pergi ke Mall. Tapi malang, di simpang lampu merah, aku dicopet. Dompetku digondol pencopet itu. Aku tak terlalu memikirkan wang di dompet itu.Tapi KTP dan SIM, mau tak mau aku harus lapor polis.Selepas proses laporan selesai, aku pamit. Ketika berjalan di koridor pejabat polis itu aku berpapasan dengan Karyo. “Bu Ratna, ngapain ke sini” kata Karyo. “Oh tak, cuma lapor, saya habis dicopet” jawabku. Dan terus berjalan, mencuba mengelak dirinya.“Eh, Bu Ratna, kebetulan kemari, ayo kita makan di kantin sana” ajak Karyo. Matanya yang tajam menatap wajahku. Aku diam seketika, berfikir, namanya juga polis, pasti minta dibayar makan. “Baiklah pak, tapi saya tak boleh lama-lama ya” kataKu.Selepas memilih tempat duduk, aku memesan air oren. Karyo memesan nasi goreng. Sambil makan dia bercerita. Tentang isteri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka mengganggu isteri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.Kadang Karyo juga bercerita tentang hal-hal kehidupan seksnya. Saya mendengarkan, rasa birahi mulai timbul, dan rasanya tubuh saya mulai menyukai Karyo. Selepas itu dia bertanya bagaimana kehidupan seks saya.Saya hanya bisa menjawab “Ah, biasa saja Pak Karyo, namanya juga suami isteri”. Pak Karyo tersenyum, “Iya maksud saya, bagaimana suami kamu di katil apa panas seperti saya tak?” Aku hanya diam, aku berfikir, Karyo mulai kurang ajar, di lain pihak aku sepertinya tertarik bercakap sama dia.Aku berusaha mengalihkan arah perbualan. “Suami saya dan saya sedang ikut program, kami ingin punya anak, jadi kita main pakai aturan.” Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Dia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.“Oh ya. Kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya. “Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.“Mudah-mudahan saya bisa bantu. Kalau mahu kita ke rumah saya. Saya beri ubat,” kata Pak Karyo pula. Aku berfikir, dan melirik jam tanganku, baru pukul 3.00 petang. “Naik apa kita” tanyaku.Selepas motosikal yang aku tumpangi berhenti di rumah Karyo, dia segera mengajakku masuk ke rumahnya. Tanpa bisa menolak, dia memegang tangan dan membawaku masuk ke rumahnya.“Sekarang saja kita mulai pengubatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Tingkap kecil di samping katil tidak terbuka. Manakala katil kayu hanya beralaskan tilam yang sudah menipis.Aku masih berdiri, rasanya tubuhku kaku. “Loh kok bengong, ini minyak khusus untuk pengobatan, supaya cepat hamil” katanya sambil memperlihatkan botol kecil berwarna hitam. “Ayo, buka baju kamu..” katanya lagi.Entah apa yang terjadi pada diriku, aku seperti kehilangan akal sehat. Perlahan kancing bajuku aku buka satu persatu. Kemudian, aku membuka skirt ku sendiri. Kini tubuhku hanya memakai Bra dan celana dalam hitamku saja. Berdiri terpaku di depan orang yang pantas menjadi ayahku.“Oh, Ratna, BH nya juga harus dibuka dong” kata Karyo lagi. Tanganku seperti digerakkan oleh fikirannya. Dengan gemetar, tanganku melepaskan kait BH ku. Dan kini dia bisa melihat jelas buah dadaku yang menggantung bebas, besar dan montok.“Oh, Ratna, suami kamu bertuah bisa memperoleh isteri secantik kamu.” guman pak Karyo, lalu memintaku berbaring terlentang di katilnya.Selepas aku berbaring, dia mengolesi tangannya dengan minyak yang ada di botol kecil itu, sebahagian minyak itu dituang di atas tubuhku. Perlahan tangan kasarnya mulai menyentuh tubuhku. Tangannya bergerak mengurut perutku.Tangannya sepertinya bukan mengurut, melainkan mengelus-elus perutku. Makin lama gerakkannya makin ke atas, dan tangan itu kini memainkan buah dadaku. Aku tak kuasa menolaknya. Aku memejamkan mata, merasakan nikmat sentuhan tangan kasarnya.Saya merasakan bibir faraj saya pun sudah mulai basah. Saya mulai merasakan birahi saya meningkat. Jari-jari itu terus memainkan buah dada saya, tak ketinggalan puting susu saya disentuh lembut oleh jarinya.Sambil menggigit bibir saya, berusaha untuk tidak mengeluarkan desahan saya. Karyo terus memainkan buah dada saya. Perlahan tangannya turun ke bawah, dan terus turun, jari-jarinya menyentuh selangkangan celana dalam saya.Saya tak kuasa, tubuh saya bagai terkena renjatan elektrik “Ohh Karyo, apa yang kamu lakukan..”. Jari-jarinya terus menekan-nekan selangkangan celana dalam saya, yang otomatis menyentuh klitoris saya, yang berada di balik celana dalam saya.Lendir nikmat saya merembes ke celana dalam saya, terus dan terus membasahi selangkangan celana dalam saya. Jari-jari Karyo pun, terus bergetar di selangkangan celana dalam saya. “Oh, Karyo aku tak tahan.. aku tak kuat..”.“Oh, ayo sayang, lepaskan nafsu kamu, lepaskan jangan ditahan” katanya lembut, membuat tubuhku tak bisa lagi bertahan. Saat jarinya bergerak semakin liar, tubuhku mengejang hebat, punggungku terangkat, “Karyo, a aku keluarrr”.Punggungku kembali terhempas di tilam lusuhnya, tubuhku lunglai. Aku merasakan sensasi nikmat, hampir sama dengan mimpi anehku beberapa hari yang lalu.“Ratna sayang, itu baru jari saya bermain di celana dalam kamu, kamu bisa bayangkan kalau kamu buka celana dalam kamu, dan rasakan lidah saya menjilati memek kamu” bisik Karyo di telingaku.Tangan Karyo memegang celana dalam saya, berusaha membukanya, tapi tangan saya segera menghalanginya “Jangan Karyo, saya malu.. jangan”.Tapi Karyo terus memaksa, dan lepaslah celana dalam saya, dia orang kedua yang melihat faraj saya. Saya sungguh merasa bersalah sama Rio, tapi tubuh saya, fikiran saya sudah dikuasai nafsu birahi yang tak bisa saya tolak.Saat jari-jarinya membuka bibir faraj saya, dan lidahnya menjulur, menjilati klitoris saya tubuh saya mengejang, merasakan nikmat sekali.“Karyo ahhh, i-t-i-l saya, ohh i-t-i-l saya gatal sekali..” desahku yang tak lagi menghiraukan rasa malu. Lidah-lidahnya terus menjilati klitoris saya. Membuat tubuh saya mengejang tak karuan. “Karyo ohh.. enak enak..”.Lidah Karyo juga tak ketinggalan menjulur-julur seperti memasuki liang farajku. Berpusing di dalam liang farajKu. Tubuhku terasa ringan, seluruh kulitku sensitif. Saat Karyo kembali menjilati klitorisku yang membesar, karena birahi, Aku tak tahan lagi “Ahh, gatal gatal banget, Karyo.. ahh…”.Klitorisku rasanya mau pecah. Tubuh terhentak, aku mengejang, mengejet beberapa kali. Aku mengalami orgasme yang hebat.Karyo membiarkan aku, dia menatap tubuh bugil ku, yang sesekali masih mengejet. Matanya yang jalang, tak melepaskan satu inci pun bahagian tubuhKu.Puas menatap tubuh bugilku Karyo melepas pakaiannya. Aku bergidik, jika mengingat mimpiku. Apa iya, zakar Karyo sebesar pentungan. Selepas zakar hitamnya mencuat keluar aku baru tenang. Zakar tak sebesar tongkat, tapi lebih besar dari milik suamiku.Dia mendekat. Aku merapatkan kakiku. “Tolong, jangan yang satu ini Karyo, tolong..”. Karyo tersenyum “Ratna, aku sudah memberikan kamu nikmat, apa salahnya ganti kamu yang memberiku nikmat, sayang”.“Jangan, tolong Karyo, aku masih punya suami, tolong lah” pintaku. “Hemm, oke deh, aku mengerti, kalau gitu pakai mulut kamu saja” katanya.“Oh, aku tidak pernah, jangan..” kataku, dan zakar Karyo terus mendekati wajahKu. “Masa sih, kamu tak pernah hisap k-o-n-t-o-l suami kamu” tanya Karyo. Aku mengangguk “Sumpah Karyo, aku tak pernah”.“Apa suami kamu pernah jilat m-e-m-e-k kamu?” tanya Karyo lagi. Aku kembali menggeleng. “Gila, mana enak sih, jadi kalian langsung saja buka baju, terus n-g-e-n-t-o-t.” katanya. Aku diam saja.Tapi seakan Karyo tak peduli, zakar hitamnya terus didekatkan ke wajah ku. Seakan tak mampu menolak, aku memejamkan mataku. Yang aku rasakan pipiku terasa hangat, dia menekan-nekan zakarnya di pipiku.Zakar itu bergerak terus ke bibirku, dan berusaha masuk ke mulutku. Perlahan aku membuka mulutku. Dan zakarnya mulai masuk ke mulutku. Zakar itu bergerak, Karyo seperti menzinai mulutku. Keluar masuk mulutku. KepalaKu dipegangnya.Karyo mendengus kenikmatan, dan terus bergerak. Lama kelamaan aku pun merasa terbiasa. Dan rasanya aku mulai suka permainan ini. Karyo terus memainkan zakarnya di mulutku, sampai dia mengeram, dan spermanya keluar di mulutku.Aku segera memuntahkan spermanya. Baru kali ini Aku merasakan sperma. Rasanya aku ingin muntah. Karyo tampak terduduk lemas. Saat itu aku segera memakai pakaianku kembali. Aku segera meninggalkan rumahnya, tanpa pamit.Hari sudah gelap saat aku keluar dari rumahnya. Dengan menahan teksi Aku segera pulang ke rumahKu. Aku melihat Opel Blazer suamiku sudah terparkir dengan rapi.Sial Aku ke duluannya. Jantung berdegup, aku takut suamiku curiga, otakku segera berfikir, mencari alasan yang tepat jika suamiku bertanya hal ini.Perlahan Aku membuka pintu, dan memasuki rumah ku. Tiba-tiba suamiku memelukku dari belakang. Aku terkejut “Ah.. mas bikin kaget saja..” kataKu.“Ha ha ha, Aku gembira sayang, jawatanku dinaikkan, yang bererti gajiku juga dinaikkan..” kata suamiku. Dia ingin menciumku. Tapi aku mengelak, mulutku kotor, aku malu terhadap diriku sendiri. “Mas, yang benar ah, jangan bercanda” kataKu untuk mengelak ciumannya.“Benar sayang, benar, kita harus rayakan” kata suamiku. “Oh, rayakan di mana mas” tanyaKu. “Karena sudah malam, kita rayakan di katil saja ya, sayang” kata suamiku. Dan tangannya segera mengangkat skirt ku, dan menyentuh selangkanganKu.Aku berusaha mengelak lagi, ih mas masa di sini, nanti kelihatan orang dong di kamar saja “kataKu. “Loh, di rumah ini kan cuma kita berdua..” kata suamiku. Yang jarinya segera meraba selangkangan ku. Jarinya menyelinap di balik celana dalamKu.Aku takut, suamiku curiga, karena farajku basah, akibat dibuat Karyo tadi.“Sayang, kok m-e-m-e-k kamu sudah basah benar sih, kamu horny ya” kata suami ku. “Ih mas bisa saja, tadi aku habis kencing, di rumah bu Ani” kataku berbohong. “Oh, kamu di rumah Ani, toh” kata suamiku.“Aku mandi dulu ya” kataku langsung lari ke bilik mandi. Aku segar membasuh mulutku, mencuci bersih farajku. Aku merasa sangat menyesal telah melakukan hal ini terhadap suamiku. Walaupun selama setahun menikah dengannya tak pernah sekalipun aku merasa begitu nikmat dalam bercinta.Aku membutuhkan kenikmatan itu, tapi aku juga membutuhkan suamiku. Aku tak habis fikir, fikiranku menolak Karyo, tapi tubuhku sangat menginginkan Karyo.“Sayang, cepat dong..” terdengar suara mesra suamiku.Malam itu kami bercinta. Ada rasa hambar di situ. Aku mencintai suamiku, tapi rasanya seks ku tak terpuaskan. Sekarang aku makin bisa membezakan. Benar kata Karyo, Aku seperti tempolong, suamiku hanya mempergunakan farajku untuk mengeluarkan spermanya, tanpa bisa memuaskan diriku.Tapi biar bagaimanapun, Rio adalah pilihanKu, aku harus konsekuen. Aku mencintainya apa adanya. Aku lebih baik mengekang nafsu birahi. Aku memutuskan untuk tak menemui Karyo lagi.“Ratna, mas besok harus ke Jakarta, menemui direksi dari kantor pusat” kata Rio tiga hari selepas kenaikan jawatannya.“Ha, berapa hari mas, saya boleh ikut?” kataku.“Ah cuma sehari kok,” kata Rio. “Tapi mas, saya takut di rumah sendirian” kata ku, dengan harapan suamiku mau mengajakku ke Jakarta. Tapi jawabannya, berbeda dengan yang kuharapkan.“Saya sudah minta Pak Karyo untuk mengawasi rumah kita, dia akan mengirim anak buahnya, untuk jaga di sini, kamu tenang saja deh” kata suamiku. Jantung berdegup keras, Karyo lagi..Pagi itu suamiku dijemput kereta dari kantornya, dan kereta itu segera membawa suamiku ke lapangan terbang. Dengan melambaikan tangan aku melepas suami ku ke Jakarta.Belum sempat aku menutup pintu rumahku, sosok tubuh besar itu sudah berada di depan pintu rumahku. “Karyo, mau apa pagi-pagi begini ke rumah orang” kataku ku buat ketus.“Loh, suami mu minta, aku menjaga rumah mu, juga menjaga dirimu he he he” kata Karyo, yang terus masuk ke rumahku tanpa dipersilakan.“Karyo, tolong jangan ganggu aku,” kataKu. Karyo menatapku, bola matanya bagaikan bersinar, yang menerobos ke mataku. “Ratna, ayo katakan dengan nurani kamu, kamu tak membutuhkan diriku” kata Karyo.“Aku, aku, aku” lidahku seperti terkunci. Tangan Karyo segera mengandeng tubuhku, membawaku masuk ke kamarku.“Sayang, aku tak bermaksud jahat sama kamu, aku cuma mau memberi kamu kenikmatan sayang. Kita sama-sama butuh itu” kata Karyo.Perlahan Karyo melepas daster tidurku, yang di balik daster itu aku tak memakai bra. Dan buah dadaku langsung terpampang di hadapannya. Perlahan lidahnya menjilat puting susuku. “Ahh..” desahku.Fikiranku kosong melopong, aku lupa suamiku. Aku hanya ingat kenikmat yang kudapat dari Karyo. Lidahnya terus bermain di putingku. Jari-jarinya hinggap di selangkangan celana dalam merahku. “Ohh Karyo.. sudah tolong jangan bikin aku nafsu”.Jari-jari itu bergerak, dan farajku mulai mengeluarkan lendir birahi. Mulutnya pun terus menyedot-nyedot buah dadaku. Jarinya terus menari-nari di selangkangan celana dalamku yang makin membasah.“Ohh, Karyo kamu jahat ooh i-t-i-l saya jadi gatal..” desah saya. Karyo terus menaikkan birahi saya dengan permainannya. Saya sudah tak tahan, saya mendesah kenikmatan “Karyo, saya mau keluar”. Saat itu, Karyo dengan sekuat tenaga, meramas buah dada saya.Saya menjerit kesakitan, otomatis, birahi saya menurun, orgasme saya menghilang. Tapi Karyo perlahan menjilati lagi puting susu saya. Menggelitik. Membuat birahi saya beransur naik kembali. Kembali saya mendesah kenikmatan.Saat saya hampir menuju puncak kenikmatan saya, Karyo menggigit puting susu saya, memberi saya rasa sakit. Kembali saya gagal orgasme.Tapi Karyo segera menaikkan birahi saya lagi, dengan memainkan selangkangan saya “Karyo tolonglah, saya mau orgasme buat saya orgasme.” Saya memohon orgasme pada dirinya selepas dia mengagalkan orgasme saya yang ke tiga kali.“Tenang sayang, saya pasti kasih kamu orgasme yang ternikmat yang pernah kamu rasakan”. Sambil dia mendorong tubuh saya dan saya terduduk di pinggir katil.Celana dalam saya, sudah terlepas dari tubuh saya. Dengan dua jarinya bibir faraj saya dibuka. Lidahnya menjulur menjilati klitoris saya. Saya mengerang “Ohh, iyah terus buat saya orgasme, saya mau keluar …Karyo ..”.Lidahnya dengan cepat, terus merangsang klitoris saya yang semakin membesar,“Oh.. Karyo, gatal, enak sekali terus “. Lidah itu terus menjilati klitoris saya.Saya sudah dekat, dan seperti nya Karyo tahu, Dia sengaja, segera klitoris saya disedotnya dengan kuat, saya merasakan sakit sekali, yang membuat orgasme saya pergi menjauh.“Karyo, kamu jahat, kamu jahat, tolong saya mau keluar” kata saya mengiba, rasanya saya ingin menangis. Mengiba minta orgasme, dari orang seperti Karyo, sangat merendahkan diri saya. Tapi apa boleh buat, saya tengah diamuk birahi.“Ratna sayang, tenang kamu pasti mendapatkan orgasme” katanya. Lidahnya kembali menjilati klitoris saya dengan lembut. Tiga buah jarinya digunakan menekan perut saya di bawah pusar. Ini membuat saya merasa ingin kencing. Saya mencuba mengeser tangannya. Tapi saya seperti tak bertenaga.Lidahnya terus memberi kenikmatan di klitoris saya, sebentar saja, rasa ingin orgasme telah mendera tubuh saya. “Ohh, Karyo, saya, oh i-t-i-l nya ..oh gatal sekali, saya tak kuat .. oh kebelet.. mau kencing”. Saya merasakan seperti nya sulit menahan rasa ingin kencing, tapi saya juga mau orgasme.“Yah, lepaskan Ratna, ayo keluarkan nafsu birahi kamu ..” kata Karyo. Tubuhku mengejang “OOHHHH .. Karyo .. ahh gatal gatal aku tak tahan“ jeritku tak karuan.Tubuhku mengerang nikmat, dan Aku menyemburkan kencingku dengan kuat. Aku merasakan setiap tetes air kencingku, mengalir memberi sensasi kenikmatan, berbarengan orgasmeKu.Aku orgasme dengan begitu fantastik, tak aku perdulikan kamarku yang basah dengan air kencingku. Tubuhku sepertinya rontok, tulangku seperti lepas, aku terbaring dengan lemas.Karyo hanya melihatku dengan tersenyum. Dan membiarkan diriku beristirahat.Selepas itu tubuh Karyo yang bugil merangkak menaiki tubuhku, aku berusaha menolak tubuhnya “Karyo jangan, aku pakai mulutku saja” kataKu, tak rela zakarnya memasuki tubuhku.“Aku sudah pernah merasakan mulut kamu sayang, sekarang aku mau coba memek kamu” kata Karyo. Tubuh terasa lemas, seperti tak bertulang, Karyo dengan mudah membuka lebar kaki ku, kepala zakarnya mulai menyentuh liang farajku.Air mataku meleleh di pipiku saat itu aku teringat suamiku Rio. Aku memejamkan mata. Saat kurasa, zakarnya mulai memasuki tubuhku.Getar-getar nikmat mulai berkecamuk di diriku. Aku merasakan sentuhan zakarnya yang menikmatkan. Tak pernah sekalipun aku menemukan rasa ini pada zakar Rio.Tat kala batang zakar hitamnya bergerak keluar masuk, aku mulai merasakan nikmat yang luar biasa, Karyo yang terus mengocok farajku dengan zakarnya mendengus “Memek kamu luar biasa nikmatnya sayang” katanya.Dalam hati aku pun berkata yang sama. “Ahh Karyo .. ahhh” desahku. Goyangannya yang lembut, tapi mantap segera membawaku ke puncak orgasme. Tapi seperti sebelumnya Karyo menahannya. Dia membenamkan zakar besar di dalam farajku, dan dia diam tak bergerak.“Karyo, ayo goyang dong ..” pintaKu. Karyo tersenyum “Loh, tadi tak mau, kok sekarang minta”. Wajahku sepertinya panas, birahiku melorot.Kembali Karyo menggoyang, dan membawaku ke puncak orgasme ku. Aku sudah tak tahan, aku harus mendapatkan orgasme ku. Dan lagi-lagi Karyo dengan sengaja membatalkan orgasme ku. Zakarnya dihentak keras ke dalam farajku, rasanya kepala zakarnya memukul rahimku.Aku mengerang sakit. “Karyo, kamu jahat sekali ..” kataku. Karyo tersenyum. “Kalau mau minta orgasme dari aku ya, kamu harus minta dengan mesra dan nafsu dong” katanya.Aku seperti seorang perempuan murahan tak bisa berfikir jernih. Langsung aku berkata “Ayo, mas Karyo e-n-t-o-t-in Ratna, ya, Ratna minta orgasme, ayo mas tolong”.Karyo tersenyum, dan dia mulai menggoyang batang zakarnya. Zakar itu membuat aku gila. Sebentar saja, rasa gatal di farajku, membuat tubuhku mengerang dan menjerit “Ahhh, enak….aku keluarrr”.Aku lemas, Karyo menahan gerakan zakarnya sebentar, merasakan otot-otot farajku meramas batang zakarnya, dan kemudian bergerak lagi. Sebentar saja, aku mencapai orgasme lagi.Entah hari itu berapa kali tubuhku mengejang dibuat orgasme oleh batang zakar Karyo. Yang jelas aku sangat menikmati permainannya. Aku lupa siapa diriku, aku lupa siapa suamiku.Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga bermalam di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Karyo juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya.Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio. Dan saya yakin Rio juga tidak tahu sama sekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Karyo itu. Entah sampai bila.TAMAT

No comments:

Post a Comment

Aku Peniaga Malam

  Aku Peniaga Malam   Berniaga di pasar malam bukan menjadi minat aku. Tetapi oleh kerana itu sahaja peluang yang aku ada bersama suami ku m...